Hayyin Natul Latifah
Anak Petani Yang Idap Dua Penyakit, Terancam Berhenti Berobat
Hayyin Natul Latifah, seorang anak perempuan berusia 6 tahun, adalah putri kedua dari pasangan Susanto dan Laila Cahyani. Meski usianya masih sangat muda, Hayyin telah menunjukkan ketangguhan yang luar biasa dalam menghadapi dua penyakit yang dideritanya: epilepsi dan pneumonia. Setiap hari, Hayyin berjuang melawan tantangan yang datang silih berganti, namun senyumnya tetap mengembang, seolah tak ingin dunia tahu betapa berat perjuangannya. Ia mengalami kejang saat berumur 2,5 bulan yang menyebabkan tangan dan kakinya kaku hingga sulit digerakkan, kejang-kejangnya tidak hanya dialaminya sekali yang mengakibatkan ia tidak mampu berjalan. Hingga umurnya yang hampir menginjak 7 tahun Hayyin masih harus mendapatkan penanganan yang serius.
Epilepsi membuat Hayyin sering mengalami kejang-kejang yang tak terduga. Susanto dan Laila selalu siaga, siap memeluk dan menenangkannya setiap kali serangan itu datang. Meski tubuhnya lemas setelah kejang, Tak banyak yang bisa dilakukan Hayyin seperti anak seumurannya, keterbatasan yang dimilikinya karena mengidap sakit membuatnya berbeda dari anak-anak sebayanya. Hari-harinya dihabiskan dengan berbaring lemah di ranjang.
Selain epilepsi, Hayyin juga harus berjuang melawan pneumonia, penyakit yang membuatnya sering kesulitan bernapas. Batuk-batuk dan demam tinggi seringkali membuatnya harus berbaring di tempat tidur selama berhari-hari. Namun, Hayyin tak pernah mengeluh. Ia selalu mencoba tersenyum, bahkan saat tangannya harus dipasangi infus atau saat ia harus menghirup oksigen melalui masker.
Susanto dan Laila adalah sumber kekuatan terbesar Hayyin. Mereka selalu ada di sampingnya, memberikan dukungan dan kasih sayang tanpa batas. Laila sering membacakan cerita sebelum tidur, sementara Susanto selalu menemani Hayyin bermain puzzle atau menggambar saat kondisinya memungkinkan. Mereka mengajarkan Hayyin untuk tetap bersyukur dan tidak menyerah, meski badai terus menerpa.
Orangtua Hayyin sudah berusaha semaksimal mungkin untuk melarikan ia ke RSUD tempatnya tinggal, berharap besar Hayyin bisa sembuh. karena tidak ada perubahan, orangtua nya memutuskan untuk merujuk ke RSUD Dr.H Abdoel Moelok atas persetujuan dokter dan langsung ditangani oleh pihak rumah sakit.
Setelah rangkaian panjang pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter kepada Hayyin, hasilnya sungguh mengejutkaan, ia menderita epilepsi dan pneumonia. Mengidap dua penyakit sekaligus membuat Hayyin menghadapi kondisi yang memprihatinkan, jangankan untuk berbicara makan pun ia kesulitan dan harus melalui selang.
Membengkaknya kebutuhannya selama merawat Hayyin adalah kendala Susanto Dan Laila, orangtua Hayyin.
“penghasilan saya dan suami tidak menentu, yang didapat tak lebih dari 50ribu/hari dengan harus menyukupi kebutuhan anak kami dan makan sehari-hari, tak jarang kita harus menahan lapar demi pengobatan Hayyin yang maksimal” ucap Orang tua Hayyin.
Pengobatan Hayyin memang di tanggung BPJS, namun untuk kebutuhan sehari-hari keluarganya sangat kekurangan. perawatan yang diberikanpun berbeda tidak seperti anak seusianya, obat kejang yang dibutuhkan pun tidak murah bagi Susanto, jarak rumah sakit dan tempat tinggalnyapun memerlukan biaya yang tidak sedikit
Meski tubuhnya lemah, semangat Hayyin tak pernah pudar. Ia adalah pahlawan kecil yang mengajarkan kita tentang arti ketangguhan, keberanian, dan cinta. Setiap langkahnya adalah bukti bahwa kehidupan, meski penuh rintangan, tetap layak dijalani dengan penuh harapan. Hayyin, sang putri kecil, adalah cahaya yang menerangi hari-hari Susanto dan Laila, serta siapa pun yang beruntung mengenalnya,
